Perlawanan Mahasiswa: Dari Kampus Menuju “Jalan Raya” Antara Gerakan Moral dan Gerakan Politik

​Apa bila kita telusuri, perlawanan-perlawanan memang berasal dari dalam kampus, dari persoalan-persoalan interen kampus. Segala kebijaksanaan yang mencoba mengekang aktivitas mahasiswa, terus menerus didobrak oleh mahasiswa sendiri. Kondisi pendidikan yang tidak memadai, profesor-profesor yang “kolot”, kurikulum-kurikulum yang tidak memenuhi harapan mahasiswa — kondisi inilah yang pada mulanya mendorong perlawanan mahasiswa. Kita dapat melihat fakta-fakta yang ada selama ini tentang “tahap awal” perlawanan mahasiswa yang dimulai dari dalam kampus. Kejadian ini dapat dilihat ketika perlawanan mahasiswa di Rusia tanggal 8 Februari 1889 di Univeristas Petersburg ketika mahasiswa mengejek rektor mereka yang reaksioner.
Apa yang terjadi di Universitas yang ada di Italia, “pemberontakan” mahasiswa sebetulnya hanya berasal dari persoalan yang “sepele”. Berawal dari tradisi staf pengajar yang otoriter, para profesor hanya memberikan pelajaran sesuai yang ada dalam diktat, begitu juga materi ujian juga hanya diambil dalam diktat. Kurikulum yang adapun juga tidak memadai lagi, sudah ketinggalan jaman. Kondisi inilah yang kemudian mendorong mahasiswa untuk mengadakan perlawanan. Tuntutan mahasiswa yang pada awalnya hanya tuntutan di satu universitas menjadi meluas ke seluruh universitas yang ada di Italia.

Kondisi Spayol dibawah pemerintahan Franco yang fasis sedang mengalami krisis — baik politik maupun ekonomi — membawa akibat langsung pada bidang pendidikan. Biaya pendidikan yang mahal dan minimnya subsidi mengakibatkan banyak mahasiswa yang harus droup out, 40 sampai 50 persen mahasiswa mengundurkan diri sebelum ujian akhir. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kebebasan dari mahasiswa untuk berorganisasi, hanya ada satu organ mahasiswa yang diakui oleh pemerintah. Kondisi inilah yang kemudian memacu mahasiswa untuk mengadakan perlawanan. Mereka mengorganisir diri, membentuk wadah perlawanan, dimana perlawanan kemudian meluas, tidak hanya menentang kondisi dan sistem pendidikan, tapi juga melawan rejim Franco yang fasis.

Kita beralih ke Prancis. Setelah gerakan mahasiswa mencapai puncaknya ketika memprotes invansi imperialis ke Aljasair (1961), dapat dikatakan gerakan melemah. Ini disebabkan oleh persoalan subyektif dari serikat mahasiswa waktu itu, UNEF (Union Nation des Etudiants de France). Hampir 7 tahun dapat dikatakan gerakan mahasiswa di Prancis mengalami titik jenuh, baru memasuki tahun 1968 gerakan menguat, bukan karena situasi politik tapi karena situasi lingkungan mahasiswa sendiri. Selama ini mahasiswa harus melawan disiplin asrama yang kolot, mahasiswa laki-laki dilarang datang ke asrama perempuan, propaganda politik dilarang, dapat dikatakan asrama seperti halnya penjara. Inilah gambaranya:

… Di tahun 1968, 72% mahasiswi dan 58% mahasiswa tinggal di asrama. Peraturan disiplin di Asrama sangat represif dan kuno;pertemuan dan propaganda politik dilarang dan mahasiswa tidak diijinkan masuk ke asrama mahasiswi. Mereka dilarang mendekorasi kamar dan menancapkan apapun di dinding; dibanyak asrama mereka hanya boleh menerima tamu diruang tamu.

Kondisi seperti diatas yang kemudian memancing mahasiswa yang sebelumnya “tertidur” untuk bangkit kembali. Kampaye anti peraturan yang kolot kemudian dilancarkan oleh mahasiswa di beberapa universitas.  Aksi-aksi mahasiswa mulai bermunculan lagi, kondisi ini kian memanas dengan adanya kondisi universitas yang makin tidak memadai; beasiswa yang tidak mencukupi, fasilitas pendidikan yang minim.

Begitu juga  dengan perlawanan mahasiswa di Korea Selatan. Awalnya perlawanan mahasiswa di Korea Selatan adalah adanya pengekangan terhadap kehidupan mahasiswa di universitas mereka berada. Gerakan ini dimulai dengan adanya, pertama kebijaksanaan otonomi kampus dalam artian kampus adalah lembaga akademis yang harus terbebaskan dari kepentingan politik diluar dunia akademis seperti politik praktis, organisasi massa, parpol,  juga organisasi buruh dan tani. Kedua, adanya kebijaksanaan wajib militer. Kebijaksanaan ini bertujuan sebagai alat cuci ideologi bagi negara dan menanamkan nasionalisme sempit. Ketiga, tidak diakuinya organisasi kampus selain Dewan Perwakilan Mahasiswa yang dibentuk oleh universitas. Di dalam suatu universitas hanya ada satu organ mahasiswa yang diakui yang tentu saja telah dikooptasi peran dan keberadaannya. Keempat, dibentuknya Komite Disiplin Akademis. Komite ini dibuat dengan kuasa penuh untuk memberikan sanksi-sanksi disiplin pada mahasiswa, dosen dan profesor yang memberikan dukungan terhadap gerakan demokratis. Aktivis mahasiswa diancam dengan droup out dan skorsing. Akibat adanya komite ini, sekitar 1.600 mahasiswa dipecat dari universitas, puluhan lainya dipenjara dengan masa hukuman 1-10 tahun.

Hal serupa juga terjadi di Indonesia awal-awal tahun 90-an. Kebijaksanaan NKK/BKK –yang diterapkan pada akhir tahun 78-an untuk “mematikan perlawanan” mahasiswa –mulai dipertayakan. Mahasiswa mulai menuntut otonomi kampus, dihapuskanya depolitasasi kampus, diberikanya kebebasan untuk mendirikan lembaga-lembaga mahasiswa alternatif. Memang berbeda strategi yang diterapkan gerakan mahasiswa Indonesia dengan strategi gerakan di negara-negara lain. Gerakan mahasiswa Indonesia mengambil strategi “melingkar” ,untuk membuka ruang yang tertutup rapat di universitas, mahasiswa melakukan aksi-aksi advokasi. Maka kasus-kasus  Kedung Ombo, Kaca Piring, Belanguan, diangkat oleh gerakan mahasiswa. Memang dalam satu sisi strategi “melingkar” ini menguntungkan karena langsung menohok isu-isu politik, akan tetapi juga membawa akibat lain. Aktivis-aktivis yang mempunyai kesadaran politis ini tetap minoritas jumlahnya, sementara mayoritas mahasiswa di dalam “penjara” universitas tidak mempunyai kesadaran politis, kesadaran ekonomispun”  jumlahnya masih amat terbatas jumlahnya. “Liberalisasi” universitas yang seperti di Barat tidak terjadi di Indonesia, sehingga persoalan ini — dimana mahasiswa apolitis, terbelakang dalam tradisi ilmiah — sampai saat masih menjadi masalah yang harus dipecahkan oleh gerakan mahasiswa dewasa ini.

Marilah kita melangkah lebih jauh. Gerakan mahasiswa yang berawal dari kampus tersebut bersamaan dengan proses dialektika yang terjadi,  kemudian merambah ke “jalan raya”, mengugat sistem negara yang otoriter. Gerakan mahasiswa sadar bahwa sistem otoriter di kampus adalah akibat langsung dari sistem negara yang juga otoriter. “Slogan” perjuangan gerakan mahasiswa harus menjadi bagian dari gerakan demokratik yang menyeluruh melawan rejim otoriter. “Tidak mungkin ada demokrasi di kampus sebelum masyarakat menjadi demokratis”.

Ernest Mandels menuliskan: Dalam garis besar, gerakan mahasiswa dimulai dari isyu-isyu kampus dan dengan cepat mulai bergerak keluar batas-batas universitas. Gerakan ini mulai menanggapi masalah-masalah sosial dan politik yang tidak langsung berhubungan dengan apa yang terjadi di dalam universitas. Selanjutnya kita ambil contoh lagi apa yang terjadi di Rusia akhir abad 19 untuk memperkuat fakta-fakta diatas,  memperlihatkan perlawanan mahasiswa yang awalnya bersifat “ekonomis” menjadi gerakan yang politis, menentang kekuasaan yang ada. Sebagai mana digambarkan oleh N Olesich dan  V Privalov: Peristiwa dapat dimulai pada tanggal 8 Februari 1899. Pada sebuah perayaan di Universitas Petersburg para mahasiswa mengejeki rektornya, yang selalu reaksioner, dan aksi berkembang lebih jauh menjadi kebencian terhadap Tsar. Lalu mahasiswa memutuskan untuk mengadakan gerak jalan menuju Nevsky Prospekt. Pemerintah memutuskan untuk menghukum mereka. Polisi secara brutal membubarkan barisan. Beberapa hari kemudian peristiwa tersebut menjadi perhatian umum di St Petersburg dan keseluruh negeri. Semua lembaga pendidikan di Rusia menyatakan mogok dibawah slogan kebebasan individu dan kenbebasan bicara didalam lingkungan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut digambarkan bahwa tuntutan tersebut tidak mungkin bisa tercapai dalam sistem pemerintahan Tsar yang otoriter: Sementara itu pada tahun 1899, para mahasiswa tetap melangkah jauh dengan tuntutan abstrak kebebasan individu dan hak-hak perseorangan, yang tidak mungkin di bawah otokrasi Tsar. Pada tahun 1901-1902, slogan para mahasiswa menjadi lebih politik kongkrit dan mendalam, seperti misalnya, “gulingkan otokrasi !” dan “kami menginginkan kebebasan bicara, dewan mahasiswa dan pers!”. Leaflet para mahasiswa menekankan lebih jauh lagi dari tuntutan akademik pada tuntutan politik, dan pentingnya aksi mahasiswa dengan kelas pekerja.

Meskipun dalam tujuan gerakan secara keseluruhan masih akademis dalam tahun 1901-1902, tapi gerakan ini sudah siap mengadopsi alat-alat politik. Para mahasiswa meninggalkan rumus-rumus universitas dan turun ke jalan, melakukan demostrasi, sebuah perjuangan politik. Dengan bekerja sama dengan kelas pekerja dalam demostrasi, para mahasiswa, semakin sadar, dan membawanya menuju revolusi.

Gerakan politik mahasiswa Korea Selatan berawal dari tuntutan kebebasan berorganisasi, kebebasan demonstrasi, mogok dan kebebasan pers, yang merupakan tuntutan demokratik gerakan di negeri itu melawan rejim militer. Kemudian tuntutan ini berkembang menjadi tuntutan anti AS (anti imperialisme). Gerakan mahasiswa ini semakin membesar ketika bulan juli 1989, Rim Sun Gyong ditangkap karena menghadari Festival Pemuda dan Mahasiswa Dunia ke 13 di Pyongyang, Korea Utara, dia kemudian dihukum 10 tahun.
Peristiwa ini telah menyulut aksi mahasiswa di seluruh Korea Selatan dan menyeret seluruh sektor rakyat. Aksi-aksi mahasiswa kemudian berkembang lebih jauh menjadi aksi anti kekerasan militer. Tragedi Kwangju 1980, dimana tentara membunuh para demostran, sekitar 1000 orang mahasiswa mati. Tahun 1982 tiga mahasiswa diculik oleh Dinas Intelejen Korea, ketiganya disiksa dan dibunuh oleh dinas intelejen tersebut. Peristiwa-peristiwa ini mulai mengubah strategi perjuangan mahasiswa, dari aksi “damai” menuju taktik “kekerasan”. Mulai digunakan bambu, tongkat, pipa besi dan bom molotov untuk melawan tentara.
Ternyata gerakan mahasiswa tidak hanya menggugat sistem kapitalis di negara mereka sendiri, tapi juga menggugat sistem yang sama di negara-negara lain. Beberapa aksi dari imperialis untuk mengkolonialisasi negara-negara lain. Ernet Mandels memberikan contoh-contoh gerakan mahasiswa yang terjadi Kolumbia, dan negara-negara Eropa Barat,:
Apa yang terjadi di Kolumbia di mana masalah penindasan komunitas kulit hitam diangkat oleh sejumlah mahasiswa pemberontak mirip dengan apa yang terjadi dalam gerakan mahasiswa Eropa Barat, paling tidak dielemen paling maju, yang paling peka terhadap masalah-masalah yang dihadapi orang-orang paling tertindas dalam sistem kapitalis dunia.
Mereka terlibat dalam berbagai aksi solidaritas dengan perjuangan pembebasan revolusioner di negara-negara berkembang seperti Kuba, Vietnam dan bagian-bagian tertindas lainya dunia ketiga. Identifikasi bagian-bagian  yang paling sadar dalam gerakan mahasiswa Prancis dengan revolusi Aljasair, dan perjuangan Aljasair dari imperialisme….. Kalangan mahasiswa yang sama kemudian akan mengambil tempat di depan dalam perjuangan mempertahankan revolusi Vietnam melawan perang agresi imperialisme Amerika.
Pergeseran perlawanan mahasiswa —  dari isu-isu kampus ke isu-isu politik — ini tidak terjadi begitu saja. Perkembangan sistem kapitalisme baik di negara maju atau di negara dunia ketiga secara langsung mempengaruhi hal ini.  Seperti yang sudah dijelaskan diatas, alienasi mahasiswa terhadap lingkungannya menyebabkan mahasiswa kritis terhadap sistem yang ada. Selama sistem kapitalisme masih ada, berarti masih ada tenga kerja yang terasing, baik itu kerja manual maupun kerja intelektual. Dan karena itu akan tetap ada mahasiswa yang terasing, berarti perlawanan mahasiswa akan tetap ada.
Setidaknya ada dua ciri pokok perlawanan mahasiswa — dari pergeseran isyu-isyu kampus ke isyu politik — sebagai pelajaran bagi gerkan mahasiswa. Pertama, dari “menyerang” sistem otoriterian di dalam kampus, gerakan bergeser dengan menyerang sistem kapitalisme. Ini tentunya merupakan kesadaran maju, bahwa sistem di kampus yang “mempenjarakan” tidak akan berubah tanpa merubah sistem negara yang menindas. Tumbuhnya kesadaran ideologis ini merupakan “kunci” bagi gerakan mahasiswa untuk “membuka” ruang yang telah mengukung mahasiswa selama ini, “ruang” yang menyebabkan mahasiswa terasing baik dengan lingkungan atau dirinya sendiri.
Kedua, tumbuhnya kesadaran internasionalis. Apabila kita saksikan, gerakan mahasiswa tidak hanya memperhatikan kepentingan mereka sindiri, tapi juga memperhatikan nasib rakyat dibelahan bumi lain yang ditindas sistem yang sama. Dapat kita saksikan aksi mahasiswa yang mendukung perjungan rakyat Aljasair, Vietnam, mendukung perjungan kaum kulit hitam di Afrika. Ini menunjukkan kesadaran yang lebih maju lagi, dimana gerakan mahasiswa mulai sadar bahwa perjungan mereka tidak cukup di perjuangkan di negara dimana mereka berada, tapi harus dilakukan diseluruh dunia. Hal ini didasari kesadaran, bahwa ternyata terjadi di dalam kampus mereka, juga terjadi di kampus-kampus lain di negara lain, dan berarti sistem kapitalis yang menindas tidak hanya terjadi di satu negara tapi telah meluas ke negara-negara lain. Bahwa ternyata “racun kapitalis telah disebarakan ke seluruh penjuru dunia, maka “penawarnyapun” harus diberikan ke seluruh penjuru dunia pula.
Pergeseran dari isu lokal di dalam kampus menjadi isu politik yang kemudian menyerang sistem kapitalis, sekaligus untuk membahas apakah gerakan mahasiswa tetap berkutat pada gerakan moral atau melangkah ke gerakan politik. Perdebatan ini sampai saat ini tetap menghangat, baik di negara-negara kapitalis maju maupun negara dunia ketiga seperti Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s