Lorong Berhewan

Bel berbunyi menyentakkan diri untuk berlari

Dalam lorong berkelas tempat rumur-rumus berjajar

Aku bergegas membuka pintu yang berpapan huruf A

Berjajar bangku-kursi’ aku memilih duduk di belakang
Seketika suara sepatu pantofel terdengar mendekat
Ruangan itu tiba-tiba hening tanpa suara

Sapaan memecah hening menggerakkan tangan membuka buku

Entah apa yang aku tulis tapi menulis adalah sebuah keharusan

Bukan untuk menyejarah, melainkan agar dia tidak marah

Hakikikah pendidikan?

Aku diharuskan menghapal rumus-rumus tanpa harus mengetahui makna secara mendalam

Aku disibukkan dengan tugas-tugas yang harus dikumpulkan tanpa harus dikaji isinya dengan benar

Mengisi kertas sederet kolom dengan penuh daftar nama

Agar apa?

Agar benar bahwa kita telah belajar
Umpama kosong atau diisi dengan huruf (i)

Kau dipertanyakan atau diragukan jawabannya

Sederet nilai terisi bukan dari pemahaman keilmuan

Jumlah kau masuk atau tidak itulah dasarnya

Begitulah hidup dilorong berkelas

Tempat sarjana, magister, doktor hingga profesor terlahir

Tanpa peduli sejauh mana nilai kemanusiaan difahami dan dilakukan
Jangan kau aneh jika kelak aku lulus

Aku menjadi binatang buas

Setidaknya aku berpotensi untuk menjadi penindas baru.

-Fay, Februari 2015-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s