Sistem Pendidikan Kapitalis dan Keharusan Perlawanan Mahasiswa di Kampus.

​Setelah kejatuhan feodalisme akibat tidak  kuat menanggung “beban sejarah” perkembangan umat manusia, lahirlah sistem kapitalisme yang lebih modern. Slogankapitalisme — sebagaimana yang diteriakkan dalam Revolusi Prancis, libertey (kebebasan), egality (persamaan), faternity (persaudaraan) — berhasil menyapu sistem feodalisme yang telah ketinggalan jaman. Inilah bukti bahwa sejarah selalu bergerak maju. Sederhanya selalu berdialektika. Revolusi Prancis merupakan tonggak munculnya suatu tahapan baru dari peradapan manusia. Memang berbeda dengan feodalisme, dimana raja adalah wakil Tuhan, kapitalisme berteriak dengan lantang, semua manusia adalah sama. Kapitalisme “mengibarkan” tinggi-tinggi “bendera” kebebasan individu. Berkembangnya kapitalisme ini juga ditandai dengan revolusi tehnologi/ilmu pengetahuan. Berawal ditemukanya mesin uap dan listrik, industri berkembang secara cepat. Pusat-pusat industri seperti tekstil mulai berkembang, mulai terjadi mobilisasi dari desa menuju perkotaan. Begitu juga dalam bidang filsafat, eksitensialisme mewakili periode ini. “Segala “paham tua” yang ada harus dihancurkan”, begitu teriakan yang muncul dari kaum borjuasi. Setiap perubahan dari suatu sistem ke sistem lainya, secara otomatis disertai perubahan corak produksi. Begitu juga perubahan dari sistem feodalisme ke sistem kapitalisme. Corak produksi feodalisme — tuan tanah dan petani miskin sebagai kelas utama — digantikan oleh kaum borjuasi dan buruh sebagai kelas utama dalam corak produksi kapitalisme. Ini otomatis mempengaruhi semua tatanan masyarakat yang ada, budaya, politik, iptek,dll.

Seperti yang disinggung diatas, perkembangan kapitalisme ditandai dengan industrialisasi disegala sektor, terjadi mobilisasi dari desa ke pusat-pusat industri di perkotaan. Corak produksi lama — corak agraris — mulai ditinggalkan, mulailah muncul buruh-buruh industri. Kita ambil contoh ini seperti yang terjadi di Rusia, dimana fase perpindahan corak produksi dari feodalisme ke kapitalisme terlihat dengan jelas. Sebagaimana yang ditulis Paul Le Blanc: Pada masa alih abad, dari abad ke 19 ke abad 20, Rusia adalah sebuah negeri yang luas dengan keadaan yang terus menerus berubah dan bergolak, yang diserang oleh berbagai kontradiksi yang mendalam. Sebagian besar masyarakat Rusia adalah petani, dengan pemilikan tanah sedang atau tidak sama sekali, yang baru dilepaskan dan muncul dari perbudakan, namun tetap ditindas oleh kaum bangsawan yang berkuasa. Pada saat yang bersamaan, sebuah proses dramatis dari industrialisasi dan urbanisasi telah menciptakan kelas pekerja yang signifikan tetapi rapuh, yang menghadapi kehidupan dan kerja yang buruk sekali. Kaum kapitalis baru yang meningkat jumlahnya, sementara hanya memperolehkan peran dari patner-patner yunior di antara penguasa  setengah (quasi) feodal di Rusia.
Masih dalam contoh perkembangan Rusia, disamping perubahan-perubahan “fisik” diatas, juga terjadi perubahan dalam tingkatan ideologis. N Olesich dan V Privatov mengambarkan sebagai berikut: Sementara dalam kebijaksanaan ekonominya, Tsar mendorong peningkatan kepentingan kaum pemilik modal dalam lapangan ideologi, khususnya dalam pendidikan tinggi, meskipun pendidikan tinggi tersebut mempunyai cara yang konservatif. Akhirnya dibawah dampak dari kapitalisme, sistem kasta yang picik dari pendidikan tinggi, yang hanya memberikan kesempatan pada para bangsawan telah didorong untuk memberikan jalan  pada semua strata masyarakat.

Pada awal abad ke 20, jumlah kaum terpelajar bertambah denga cepat. Pada awal 1903 telah terdapat 85 lembaga pendidikan tinggi di Rusia dengan menampung 42.884 siswa. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, pada tahun ajaran 1914/1915 telah berdiri 105 pendidikan tinggi dengan daya tampung 127.400 siswa.
Apa yang terjadi Rusia, juga terjadi dinegara-negara lain yang memasuki fase corak produksi baru — corak produksi kapitalis. Begitu juga di Indonesia. Bedanya sistem kapitalisme di Indonesia bukan lahir dari perjuangan borjuasi “pribumi”, tapi dicangkokkan oleh kalonialisme Belanda. Pada awalnyapun, kolonialisme Belanda kurang memperhatikan sektor pendidikan, berbeda dengan negara-negara lain yang mengalami fase “normal” dari perpindahan corak produksi ini. Kolonialisme Belanda pada awalnya hanya memeras fisik, tanpa meningkatkan kecerdasan rakyat Indonesia. Tidak heran kalau di antara negara jajahan di Asia, Indonesia paling terbelakang, dibanding Malaysia, Brunai, Singapura, yang menjadi jajahan Inggris.
Baru sejak diterapkanya politik Etis oleh Belanda — setelah kemenangan kelompok liberal, dengan slogan irigasi, edukasi dan transmigrasi — terhadap tanah jajahan seperti Indonesia, terjadi perubahan yang mendasar di berbagai sektor. Perkembangan kapitalisme di Belanda, dimana jumlah produk meningkat, sementara pasar terbatas, memaksa mencari tempat lain sebagai pasar dan membuka industri baru di negeri jajahan. Mau tidak mau Belanda harus “mendidik” penduduk daerah jajahan, baik untuk kepentingan industrialisasi maupun staf adminitrasi rendahan. Dalam laporan Semaoen menggambarkan kondisi Indonesia setelah diberlakukanya politik etis: Tahun 1900 menyaksikan perubahan besar: pertumbuhan kapitalisme telah menimbulkan penghisapan terhadap bumiputra, dan juga proletarisasi. Para kapitalis, untuk memperoleh staff juru tulis dan pegawai kecil, membuka kesempatan pendidikan bagi bumiputera. Pemerintah mulai menerapkan “Politik Etis”, yang dengan alasan meningkatkan “standar hidup” orang bumi putera …” .
Sekolah-sekolah baru kemudian didirikan, baik oleh pemerintah Belanda atau oleh kaum bumi putera, kesempatan pendidikan bagi rakyat bertambah luas — dimana sebelumnya hanya golongan priyayi yang dapat menikmati pendidikan. Sekolah-sekolah yang didirikan oleh kaum bumi putera tidak hanya bertujuan “komersial”, akan tetapi sudah bertujuan sosial politik. Dapat kita ambil contoh tujuan didirikan sekolah menurut Serikat Islam:
1. Memberi sendjata tjoekoep, boet mentjari penghidoepan dalam doenia kemodalan (berhitoeng, menoelis, ilmoe bumi, bahasa Belanda, Djawa, Melajoe, d.sb).
2. Memberi haknja moerid-moerid, jani kesoekaan hidoep dengan djalan pergaoelan (vereeniging).

3. Menoendjoekkan kewadjipannja kelak, terhadap berjoeta-djoeta Kaeom Kromo.

Dari sini kita dapat melihat, paling tidak kapitalisme telah  memberikan “sumbangkan” yang berarti — kesempatan pendidikan, melahirkan intelegensia-intelegensia baru. Dengan begitu telah muncul “kelas” baru yang mempunyai “keistimewaan” dalam memperoleh akses-akses baik informasi, teori-teori ilmiah dibandingkan kelas lainya.”Kelas” ini bisa berdiskusi, membicarakan situasi yang ada, membandingkan kondisi yang mereka alami dengan teori-teori yang mereka pelajari. Maka tidak heran kalau mereka menjadi kritis terhadap keadaan, kemudian muncul kesadaran untuk mengubah keadaan, mendorong sektor lain untuk ikut bergerak. Inilah sebanya banyak tokoh-tokoh yang mendorong perubahan dunia berasal dari “kelas” ini, tokoh-tokoh seperti Hegel, Marx, Adam Smid, Lenin, Gandhi, Soekarno,dll — merupakan intelegensia, lahir dari universitas-universitas.
Apa yang terjadi selajutnya, “kebaikan” kapitalisme ini telah “melahirkan anak haram” yang melawan “ibu kandungnya sendiri”. Kelas “baru”, yaitu mahasiswa, dalam fakta-fakta sejarah malah mempelopori untuk melawan sistem kapitalisme yang menghisap.  Ini bukan terjadi begitu saja, bahwa ternyata sistem pendidikan kapitalisme menciptakan “proletarisasi” baru.
Marilah kita kupas lebih mendalam. Kapitalisme membutuhkan banyak tenaga kerja terlatih untuk memenuhi kebutuhan pasar industri yang berkembang sangat pesat. Dengan demikian, lembaga-lembaga  pendidikan dipacu untuk “melahirkan” tenaga-tenaga kerja ahli sesuai dengan kebutuhan pasar kapitalis. Apa yang terjadi kemudian, jurusan-jurusan tertentu yang banyak dibutuhkan ekonomi kapitalis dipacu hasilnya, sedangkan jurusan-jurusan yang tidak ada hubungannya dengan ekonomi kapitalis “dinomer duakan”. Disadari atau tidak, universitas menjadi sub-ordinasi terhadap kebutuhan langsung terhadap ekonomi kapitalis. Ernest Mandel mengambarkan kondisi ini sebagai berikut:
Mereka bahkan tidak diizijinkan memilih karir, bidang, studi dan disiplin ilmu yang mereka kehendaki dan berhubungan dengan keahlian dan kebutuhan mereka. Mereka akan dipaksa menerima pekerjaan, disiplin ilmu dan bidang studi yang berhubungan dengan kepentingan penguasa masyarakat kapitalis, dan tidak berhubungan dengan kebutuhan mereka sebagai manusia .
Dengan kondisi diatas, mahasiswa hanya dijadikan “komoditi”, tidak diberi hak untuk menentukan pilihan-pilihan, kebebasan ini telah dirampas oleh kebutuhan pasar kapitalis. Mahasiswa yang mencoba “menentang” kehendak pasar kapitalis, mengambil jurusan yang tidak dibutuhkan oleh kebutuhan kapitalis, maka akan menjadi penganggur-penganggur baru. Adalah tepat yang digambarkan Ernest Mandels tentang kondisi ini, mengutip dari kuliah umum seoang pendidik yang terkenal di Kanada:
Beberapa hari yang lalu, ketika di Toronto, salah satu pendidik Kanada yang terkenal memberikan kuliah umum tentang sebab-sebab perlawanan mahasiswa. Menurutnya, alasan-alasan perlawanan itu “secara mendasar bersifat material”. Bukan karena kondisi hidup mereka tidak memuaskan;bukan karena mereka diperlakukan seperti buruh abad XIX. Tapi karena secara sosial kita menciptakan sejenis proletariat di universitas yang tidak berhak  berpartisipasi dalam menentukan kurikulum, tidak berhak, setidaknya untuk ikut menentukan kehidupan mereka sendiri selama empat, lima atau enam tahun yang mereka habiskan di universitas.
Dari sini jelaslah, mahasiswa menjadi terasing dengan “kehidupanya” di universitas. Mereka menjalani kehidupan di  universitas dengan keterpaksaan, bukanlah kehendak dari hati nurani. Apa yang didapatkan adalah kondisi universitas yang “otoriter”, tidak memberi peluang kepada mahasiswa  untuk mengembangkan kemampuan mereka. Tuntutan-tuntutan kapitalis yang tidak berhubungan dengan bakat perorangan dan kebutuhan manusia, itulah yang ada.
Makin terasingnya tenaga kerja intelektual ini sedikit banyak menggerakkan perlawanan mahasiswa. Memang perlawanan ini bukan pelopor dari perlawan kelas buruh, tapi dapat menjadi picu ledak bagi perlawanan sektor lain yang lebih luas. Awalnya perlawanan mahasiswa adalah untuk menghadapi birokrasi kampus yang otoriter, yang mengekang kebebasan indiviudal mereka. Mereka berusaha mengubah tatanan kampus agar bisa lebih “memanusiakan”. Ernest Mandels menyatakan dalam tulisanya:
Mereka (mahasiswa-pen) pertama-tama berhadapan dengan wewenang para dosen dan lembaga-lembaga universitas yang paling tidak dalam bidang ilmu sosialnya tidak berhubungan dengan realitas. Pelajaran yang mereka peroleh tidak memberikan analisa ilmiah yang obyektif  tentang apa yang sedang terjadi di dunia atau negara-negara barat lainya. Tantangan terhadap wewenang akademis dari lembaga inilah yang kemudian cepat bergeser menjadi tantangan terhadap isi pendidikan.
Hal ini kemudian diperparah oleh situasi kehidupan mahasiswa yang makin memburuk, baik akibat dikuranginya subsidi pendidikan, dikuranginya beasiswa, ataupun akibat orang tua mereka  yang semakin melemah ekonominya akibat krisis yang ada. Banyaknya subsidi bagi sektor pendidikan dianggap tidak efisien. Banyak anggaran negara yang harus dikuluarkan untuk kebutuhan ini, itulah alasannya. Pendidikan kemudian dikomersialkan, mahasiswa harus memenuhi kebutuhannya sendiri — baik untuk pemenuhan literatur-literatur, penelitian ilmiah — dengan membayar mahal biaya pendidikan. Akibatnya banyak mahasiswa yang harus berhenti kuliah, hanya mahasiswa kaya yang mampu melanjutkan kuliah. Ada baiknya kita melihat keadaan mahasiswa di Rusia awal abad 20:
Pada tahun ajaran 1899/1900, 5,3% dari mahasiswa di universitas Moskow nyaris tidak dapat melanjutkan kuliahnya. Pada tahun 1901 jumlah siswa yang sangat membutuhkan bantuan keuangan melonjak di Universitas Moskow; 62,27% di Jurusan Filologi, 50,21% di Jurusan  Matematika, dan 60,73% di Jurusan Kedokteran. Jumlah siswa yang butuh bantuan keuwangan sangat melonjak di kedokteran hewan, institut pertanian, sekolah guru dan sekolah asisten dosen….

…. Sementara pemerintah secara reguler selalu menaikkan bayaran sekolah. Cara ini telah membuat terdepaknya para mahasiswa yang tidak kaya dari universitas. Dari periode 1887 hingga 1898 uang bayaran meningkat dari 10 rubel menjadi 50 rubel. Pada masa revolusi (gagal-pen) 1905 uang bayaran telah mencapai 100 rubel pertahun.

Setiap tahun uang dana beasiswa terus dikurangi. Pada tahun 1899 hanya 6,1% siswa di Universitas Kazan menerima beasiswa. Pada tahun 1904 jumlahnya semakin menurun mencapai 4,3%. Seringkali dalam mendistribusikan beasiswa para birokrat pendidikan tinggi lebih menekankan pada loyalitas  politik ketimbang kondisi material .
Dari gambaran-gambaran diatas, mahasiswa harus tetap melakukan perlawanan di kampusnya, jelaslah kapitalisme telah melahirkan “anak” yang salah urus sehingga melawan “orang tuanya sendiri”. Sistem pendidikan kapitalisme ternyata telah memelihara “harimau” yang akan menerkam dan membinasakan sistem yang telah membesarkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s