GENDER, SEKS DAN SEKSUALITAS.​ Oleh: Nadya Alfi Roihana

Isu tentang seksualitas dan gender telah menjadi bahasan analisis sosial, menjadi pokok bahasan dalam wacana perdebatan mengenai perubahan sosial dan juga menjadi topik utama dalam perbincangan mengenai pembangunan dan perubahan sosial. Bahkan, beberapa waktu terakhir ini, berbagai tulisan baik dimedia massa maupun buku-buku, seminar, diskusi dan sebagainya banyak membahas tentang protes dan gugatan terkait dengan ketidakadilan dan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan itu terjadi hampir disemua bidang, mulai dari tingkat inetrnasional, negara, keagamaan, sosial, budaya, ekonomi, bahkan sampai tingkatan rumah tangga.
Perlu dijelaskan bahwa istilah gender tidak sepadan dengan seks. Seks adalah ciri-ciri fisik atau biologis yang secara kodrati (given) diberikan oleh Tuhan dan bersifat universal. Sedangkan gender adalah konstruksi atau bangunan sosial-budaya mengenai peran, sifat, atau perilaku yang bersifat non-kodrati dan bersifat lokal. Contoh dari seks yaitu; pada laki-laki terdapat penis, sel sperma, hormon testosteron, testis dan jakun, sedangkan pada perempuan yaitu adanya vagina, rahim, ovum, clitoris serta hormon esterogen dan progesteron. Keseluruhan hal tersebut mengacu pada ciri-ciri biologis dan ciri atau pembeda itu tidak dapat saling dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Lain hal dengan gender, peran-peran yang berlaku pada laki-laki seperti kuat, berani, rasional, superior, pemimpin, dan sebagainya dapat saling dipertukarkan fungsinya terhadap perempuan.

Pada dasarnya, gender tidak perlu dipermasalahkan, kecuali menimbulkan ketidakadilan. Bentuk-bentuk ketidakadilan tersebut meliputi Marginalisasi (Peminggiran), subordinasi (menomorduakan), stereotype (pelabelan), Double Burden (Beban ganda), dan Kekerasan (violence).

Pemahaman akan gender sangat diperlukan karena kita hidup sehari-hari berada dalam relasi antara laki-laki dan perempuan. Jika kita gagal memahami relasi perempuan dan laki-laki, maka hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk gagal pula memahami kemasyarakatan.

Satu hal lagi yang tidak dapat lepas dari bahasan tentang seks dan gender, yaitu seksualitas. Seksualitas adalah konsep yang luas dan meliputi beberapa aspek seperti birahi, identitas seksual, orientasi seksual, ekspresi seksual, perilaku seksual, serta kesehatan seksual. Seksualitas menjadi suatu isu yang masih sensitif untuk dibahas karena diartikan atau dipahami secara berbeda. Seperti halnya ketika kita membahas mengenai LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgende, Intersex dan Queer), stigma buruk selalu muncul (biasanya) dari kelompok agama ektremis serta karena kurangnya pengetahuan pemerintahan (mulai dari lokal hingga ke pusat) sehingga memunculkan perlakuan diskriminatif terhadap orientasi seksual tersebut.

Berangkat dari ketidakadilan tersebut, muncullah faham yang memperjuangkan hak-hak dari kaum perempuan agar mendapat hak yang sama tanpa adanya diskriminasi. Beberapa hal yang ditekankan dari gerakan feminis ini adalah perempuan ingin mendapatkan akses untuk pekerjaan yang layak, perempuan ingin mendapatkan akses pendidikan, dan perempuan ingin mendapatkan hak-nya untuk berpolitik. Singkatnya, perempuan menuntut hak yang sama dengan yang kaum laki-laki dapatkan. Perjuangan inipun terus berjalan, seiring dengan berkembangnya gerakan perempuan di berbagai negara, termasuk di negara-negara Asia.

Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Lagi-lagi hanya segelintir perempuan yang melibatkan diri untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Sehingga sering muncul pertanyaan: “Mengapa hanya segelintir perempuan saja yang feminis?” Lalu berkembang menjadi pertanyaan “Mengapa seorang perempuan bisa menjadi feminis?”. Pertanyaan ini akan dijawab sederhana saja. Tidak semua perempuan paham akan makna feminisme yang sesungguhnya. Pertama, karena perempuan masa kini tidak lahir di era dimana perempuan-perempuan benar-benar dijadikan mahluk subordinat di dalam kehidupan masyarakat. Perempuan kini tidak perlu merasakan apa yang dirasakan Kartini seperti ‘dipingit’, dirampas hak pendidikannya, walaupun sebagian kecil masih ada masyarakat yang menerapkan budaya ini. Kedua, perempuan yang kini mengklaim dirinya sebagai feminis lahir melalui sebuah kontemplasi pikiran perempuan dengan pengalaman. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh buku-buku studi literatur feminisme, dan juga buku-buku yang mengangkat pengalaman perempuan yang tertindas oleh budaya patriarki. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kontemplasi pikiran dan pengalaman perempuan tidak menghasilkan suatu interpretasi yang sama.

Dari berbagai kondisi tersebut, feminisme berkembang dan terbagi menjadi beberapa jenis seperti; feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxist, feminisme sosialis, feminisme kontemporer, feminisme muslim, dan lain-lain. Hal ini tentunya menjadi poin plus karena dapat melengkapi teori-teori sosial sebelumnya yang melupakan relasi paling intim yaitu relasi laki-laki dan perempuan.

Keadilan gender tidak akan terwujud tanpa adanya perjuangan melawan ketidakadilan. Perjuangan harus secara konsisten dilakukan sehingga dapat menciptakan keadilan yang meliputi; akses atau kesempatan yang sama dalam memperoleh hak-hak dasar, partisipasi atau keterlibatan yang sama dalam memperoleh sumber daya, kontrol atau keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan manfaat atau untuk memperoleh hasil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s